Kamis, 27 Agustus 2009

Waktu Imsak Yang Dipertanyakan

Banyak juga kawan-kawan di Qatar bertanya-tanya mengapa di jadwal Ramadhan di Qatar tidak ada waktu imsak. Bahkan banyak yang meragukan pentingnya imsak. Imsak yang dimaksud disini sebagaimana kita ketahui di Indonesia adalah waktu berhenti makan sebelum waktu Subuh tiba yaitu sekitar 10-15 menit sebelum subuh.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan dalam Shahih Al-Bukhari:

بَابُ قَدْرِ كَمْ بَيْنَ السُّحُوْرِ وَصَلاَةِ الْفَجْرِ

“Bab perkiraan berapa lama waktu antara sahur dengan shalat fajar”. Maksudnya (jarak waktu) antara selesainya sahur dengan permulaan shalat Fajar. (Fathul Bari, 4/164)
Dan hal ini sebagaimana telah diterangkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih Al-Bukhari pada kitab Tahajjud, dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, beliau ditanya:

كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سُحُوْرِهِمَا وَدُخُوْلِهِمَا فِي الصَّلاَةِ؟ قَالَ: قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِيْنَ آيَةً
“Berapakah jarak waktu antara selesainya Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Zaid bin Tsabit radiyallahu ‘anhu makan sahur dengan permulaan mengerjakan shalat (subuh)? Beliau menjawab: ‘Seperti waktu yang dibutuhkan seseorang membaca 50 ayat (dari Al Qur`an)’.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (wafat 852 H) dalam Fathul Bari (4/164) menyebutkan: “(Bacaan tersebut) bacaan yang sedang-sedang saja (ayat-ayat yang dibaca), tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu pendek, dan (membacanya) tidak cepat dan tidak pula lambat”.Bila kita sebutkan dengan catatan waktu maka kira-kira jarak antara keduanya 10-15 menit.

Namun boleh saja apabila kita terpaksa makan-minum dalam waktu tersebut asalkan pada waktu masuk subuh sudah tidak ada lagi makanan tersisa di mulut kita, karena waktu puasa sesungguhnya dimulai dari terbit fajar/waktu subuh hingga terbenam matahari. Waktu imsak hanya sebagai pengingat dan membuat kita lebih waspada. Bukanlah akhlak Rasulullah saw dan para sahabat ra pada waktu subuh tiba masih asyik dengan hidangan makanan didepannya, sehingga telat pula menuju masjid untuk menunaikan subuh berjama’ah.

Jadi jangan sampai tertipu dengan perkataan sebagian minoritas yang membid’ahkan imsak sebelum subuh. Wallahu a’lam.

Sabtu, 22 Agustus 2009

Jadwal Shalat di Qatar

Sekedar pemberitahuan bagi kawan-kawan di Qatar yang sulit mendapatkan jadwal shalat dan imsakiyah (ramadan timetable) bisa langsung cek online di http://www.guidedways.com/prayertimes/prayertimings.php?country=qatar&city=Doha&state=Ad+Dawhah&latitude=25.2867&longitude=51.5333

Jumlah Bilangan Rakaat Shalat Tarawih


Sepertinya ini masalah yang terus hangat sampai sekarang. Juga seperti yang kami ketahui di Qatar juga terdapat masjid yang mendirikan Tarawih 8 rakaat tidak termasuk witir dan ada yang 20 rakaat tidak termasuk witir. Jumlah rakaat Tarawih yang masyhur di zaman ini adalah 8, 20, dan 36 rakaat tidak termasuk witir. Berbicara tentang dalil maka akan panjang sekali dan tidak akan pernah ada habisnya perdebatan. Namun yang perlu diketahui adalah 4 mazhab Ahlussunnah (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) sebagaimana diketahui khalayak ramai bahwa telah sepakat menetapkan 20 rakaat untuk bilangan Shalat Tarawih. Adapun Mazhab Maliki memang terdapat 2 pendapat dikalangan para ulamanya, ada sebagian yang mendukung 20 rakaat dan sebagiannya mendukung 36 rakaat. Tak ada satupun mazhab Ahlussunnah menetapkan 8 rakaat salat tarawih. Hafiz Ibnu Hajar & Hafiz Suyuthi walaupun mengatakan ada cacat dalam hadits-hadits 20 rakaat namun mereka sebagaimana telah diketahui adalah pengikut mazhab Syafi’i, yang sudah barang tentu mendukung 20 rakaat. Dan begitu juga yang berlaku di Masjid al-Haram di Makah al-Mukarramah secara turun-temurun.

Sehingga tidak ada pijakan kuat untuk mengikut pada Tarawih 8 rakaat. Kalau membaca 2 atau 3 hadits sudah bisa istinbath hukum maka sebaiknya kita bakar saja kitab-kitab para ulama terdahulu, kita hapus juga mata kuliah Ushul Fiqh yang diajarkan di perguruan-perguruan tinggi, sungguh lancang. Karena membaca hadits dan menafsirkan sendiri tanpa merujuk pendapat para ulama berakibat melahirkan mazhab-mazhab baru dan faham-faham baru yang tidak kompeten, bahkan di Indonesia banyak bermunculan aliran sesat dengan jargon kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah tanpa merujuk pendapat para ulama terdahulu.

Kami tidak bermaksud memusuhi pendukung Tarawih 8 rakaat karena ini masalah fur’iyyah. Kami hanya ingin menegaskan bahwa 4 mazhab Ahlussunnah tidak ada yang menetapkan 8 rakaat. Adapun ukhuwwah harus tetap dijaga. Wallahu a’lam

Kamis, 20 Agustus 2009

Metode Hisab (Perhitungan Astronomis)


Dengan ditempatkan sebagai acuan perhitungan kalender, siklus peredaran Bulan dan Matahari itu logisnya harus bersifat eksak, dan nyatanya memang demikian. Al-Qur'an (ar-Rahman ayat 5) menegaskan: "Asy-syamsu wal-qamaru bihusban" (Matahari dan Bulan beredar dengan perhitungan), dan hasil penyelidikan ilmu pengetahuan membenarkan hal itu. Konsekuensi logisnya -karena peredaran Bulan dan Matahari bersifat eksak- adalah bahwa penyusunan kalender yang mengacu kepada peredaran kedua benda langit tersebut tentu bisa dilakukan dengan hisab atau perhitungan.

Dengan observasi atau rukyat yang cermat dan berulang-ulang terhadap posisi benda-benda langit, manusia telah mengetahui ihwal peredaran benda-benda langit yang eksak itu beserta lintasannya. Observasi seperti itu telah dilakukan oleh bangsa Babilonia yang berada di antara sungai Tigris dan sungai Efrat (selatan Irak sekarang) pada kurang-lebih 3.000 tahun sebelum Masehi. Mereka sudah menemukan dua belas gugusan bintang-bintang (zodiak) di langit yang posisinya mereka bayangkan membentuk satu lingkaran. Setiap gugusan bintang akan berlalu setelah 30 hari. Penemuan mereka itu akhirnya melahirkan ilmu geometri dan matematika, ilmu ukur dan ilmu hisab (hitung).

Ilmu perbintangan bangsa Babilonia itu kemudian dibawa oleh pedagang-pedagang dari Tunisia ke Yunani. Di antara orang Yunani yang kemudian dikenaI ahli dalam ilmu perbintangan (astronomi) dan geografi adalah Claudius Ptolemaeus (100-178 M.). Selanjutnya bangsa Arab mengambil alih ilmu perbintangan tersebut dari Yunani. Selama beberapa abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat (632 M.), yakni pada zaman gemilangnya imperium Arab, kekayaan ilmu dari Yunani itu dikaji, diterjemahkan, dan sisajikan kembali dengan tambahan-tambahan komentar yang penting. Buku peninggalan Claudius Ptolemaeus yang disalin ke dalam bahasa Arab dinamakam Ptolemy’s Almagest (magest yang artinya ”usaha yang paling besar” adalah kata-kata Yunani yang diarabkan dengan imbuhan "al")

Salah seorang ulama Islam yang muncul sebagai ahli ilmu falak terkemuka adalah Muhammad bin Musa al-khawarizmi (780-850). Dialah pengumpul dan penyusun daftar astronomi (zij) yang tertua dalam bentuk angka-angka (sistem perangkaan Arab diperoleh dari India) yang di kemudian hari termasyhur dengan nama daftar algoritmus atau daftar logaritma. Daftar logaritma al-Khawarizmi ini ternyata sangat menentukan dalam perkiraan astronomis, sehingga ia berkemhang sedemikian rupa di kalangan (sarjana astronom, mengalahkan teori-teori astronomi serta hisab Yunani dan India yang telah ada, dan bahkan berkembang sampai ke Tiongkok.

Dari bangsa Arab, ilmu falak kemudian menyebrang ke Eropa, dibawa oleh bangsa Eropa yang menuntut ilmu pengetahuan di Spanyol seperti di Sevilla, Granada, dan Cordoba. Muncullah di Eropah Nicolas Copernicus (1473-1543), ahli ilmu falak dari Polandia yang mencetuskan teori heliosentris yang masih digunakan sampai sekarang. Selanjutnya, dengan ditemukannya teleskop oleh Galileo Galilei (1564-1642) yang menguatkan teori Nicolas Copernicus, ilmu falak kian maju lebih jauh lagi.

Penguasaan ulama Islam terhadap ilmu falak telah memungkinkan mereka untuk melakukan penyusunan kalender berdasarkan hisab. Karena ini fenomena baru, maka ramailah perbincangan mengenai soal itu dari sudut hukum Islam (fiqh). Di tengah kontroversi boleh tidaknya berpedoman pada hisab, sejumlah fuqaha seperti lbu Banna, Ibnu Syuraih, al-Qaffal, Qadi Abu Taib, Mutraf, lbnu Qutaibah, lbnu Muqatil ar-Razi, Ibnu Daqiqil ‘Id, dan as-Subki, membolehkan penggunaan hisab dalam menentukan awal dan akhir Ramadan.

Metode Hisab

Kendati sama rnengacu pada perhitungan siklus peredaran Bulan mengelilingi Bumi, tetapi dalam implementasinya dikenal adanya dua sistem hisab dalam penyusunan kalender qamariyah, yakni Hisab Urfi dan Hisab Hakiki.

a.Hisab Urfi
Dalam sistem Hisab Urfi, kalender qamariyah disusun berdasarkan masa peredaraan rata-rata Bulan mengelilingi Bumi, yakni 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik (masa yang berlalu di antara dua ijtimak yang berurutan, atau satu bulan Sinodis). Berdasarkan perhitungan ini, maka satu tahun (12 bulan) dihitung sama dengan 354 hari 8 jam 48 menit 36 detik (354 11/30 hari).

Karena terdapat angka pecahan sebesar sebesar 11/30 hari, maka untuk menghilangkannya sistem ini membuat siklus 30 tahunan dalam kalender qamariyah yang terdiri dari 19 tahun Basitah (354 hari) dan 11 tahun Kabisat (355 hari). Tahun-tahun Kabisat (tahun panjang) dalam siklus 30 tahun tersebut jatuh pada urutan ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, 29. Umur bulan dalam sistem ini dibikin tetap, yakni 30 hari untuk buJan-bulan ganjil dan 29 hari untuk bulan-bulan genap (kecuali bulan ke 12 pada tahun-tahun Kabisat berumur 30 hari).

Dengan sistem ini, awal bulan-bulan qamariyah di segenap belahan Bumi akan selalu jatuh pada hari yang sama. Tetapi karena mengesampingkan variabel penampakan hilal, maka –dalam kerangka penentuan waktu untuk pelaksanaan hukum syari'at- sistem ini tidak banyak dianut oleh kaum muslimin.

b. Hisab Hakiki
Dalam sistem Hisab Hakiki, kalender qamariyah disusun berdasarkan masa peredaraan Bulan yang sebenarnya (hakiki). Karena itu, panjang masa yang berlalu di antara dua ijtimak berurutan (satu bulan sinodis) tidak selalu sama setiap bulan. Kadang hanya 29 hari lebih 6 jam dan beberapa menit, dan kadang sampai 29 hari lebih 19 jam dan beberapa menit. Berkaitan dengan ini, maka umur bulan yang selalu tetap seperti dalam Hisab 'Urfi tidak dikenal dalam sistem ini. Boleh jadi 29 hari berturut-turut, atau 30 hari berturut-turut.

Dalam praktiknya, sistem ini menyusun kalender dengan memperhitungkan posisi Bulan. Karena itu untuk penentuan waktu-waktu ibadah sistem Hisab Hakiki ini banyak dianut oleh kaum muslimin.

Berbagai metode hisab banyak dikembangkan pada alur sistem ini. Dari segi akurasinya, metode-metode hisab tersebut lazim dikategorikan menjadi tiga, yakni Taqribi, Tahqiqi dan Kontemporer.

Taqribi menentukan derajat ketinggian Bulan paska ijtimak berdasarkan perhitungan yang sifatnya "kurang-lebih", yakni membagi dua selisih waktu antara saat ijtimak dengan saat terbenam Matahari. Metoda hisab Sullamun Nayyirain, Fathur Rauf al-Mannan dan sejenisnya dipandang masuk dalam kategori ini.

Tahqiqi menentukan derajat ketinggian Bulan paska ijtimak dengan memanfaatkan perhitungan ilmu ukur segitiga bola. Metoda hisab Badi'atul Mitsal, Khulashatul Wafiyah dan sejenisnya dihitung masuk dalam kategori ini.

Kontemporer sama dengan Tahqiqi dalam cara menentukan derajat ketinggian Bulan. Bedanya, hisab Kontemporer mengacu pada data astronomis yang selalu diperbaharui atau dikoreksi dengan penemuan-penemuan terbaru. Metoda hisab Jean Meus, Almanak Nautika dan sejenisnya dianggap masuk dalam kategori ini.

Perbedaan penentuan awal bulan qamariyah dengan sistem Hisab Hakiki mungkin saja terjadi, dan ltu -setidaknya- dapat dipulangkan pada tiga faktor. Pertama, karena perbedaan akurasi perhitungan antara metoda-metoda hisab Taqribi, Tahqiqi, dan Kontemporer itu tadi. Kedua, karena perbedaan pandangan mengenai acuan penentunya: apakah ijtimak (konjungsi) sebelum terbenam Matahari, atau posisi Bulan di atas ufuk secara mutlak, ataukah posisi Bulan di atas ufuk yang telah memenuhi syarat imkan rukyah (visible). Ketiga, karena perbedaan posisi tempat di berbagai belahan Bumi (perbedaan matla'). Demikianlah. Wallahu A’lam.

KH Abdul Salam Nawawi
Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur

Rabu, 05 Agustus 2009

Busyra (Berita Gembira) untuk Ahlussunnah; al Asya'irah dan al Maturidiyyah


Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: "Konstantinopel (Istanbul sekarang) pasti akan dikuasai, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang berhasil manguasainya dan sebaik-sebaik tentara adalah tentara tersebut" (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya).


Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam memuji sultan Muhammad al Fatih karena beliau adalah seorang sultan yang shalih, aqidahnya sesuai dengan aqidah Rasulullah. Seandainya aqidahnya menyalahi aqidah Rasulullah, Rasulullah tidak akan memujinya. Seperti maklum diketahui dan dicatat oleh sejarah bahwa sultan Muhammad al Fatih adalah Asy'ari Maturidi, meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat. Dengan demikian hadits ini adalah busyra (berita gembira) bagi seluruh Ahlussunnah, al Asy'ariyyah dan al Maturidiyyah bahwa aqidah mereka sesuai dengan aqidah Rasulullah, maka berbahagialah orang yang senantiasa mengikuti jalan mereka.


Aqidah al Asy'ariyyah dan al Maturidiyyah adalah aqidah kaum muslimin dari kalangan Salaf dan Khalaf, aqidah para khalifah dan sultan, seperti sultan Shalahuddin al Ayyubi –semoga Allah meridlainya-. Sulthan Shalahuddin al Ayyubi adalah seorang 'alim, penganut aqidah Asy'ariyyah dan madzhab Syafi'i, hafal al Qur'an dan kitab at-Tanbih dalam fiqh Syafi'i serta sering menghadiri majlis-majlis ulama hadits. Al Imam Muhammad ibn Hibatillah al Barmaki menyusun untuk sulthan Shalahuddin al Ayyubi sebuah risalah dalam bentuk nazham berisi aqidah Ahlussunnah dan ternyata sultan sangat tertarik dan akhirnya memerintahkan agar aqidah ini diajarkan kepada umat Islam, kecil dan besar, tua dan muda, sehingga akhirnya risalah tersebut dikenal dengan nama al Aqidah ash-Shalahiyyah. Risalah ini di antaranya memuat penegasan bahwa Allah maha suci dari benda (jism), sifat-sifat benda dan maha suci dari arah dan tempat. Sulthan Shalahuddin adalah seorang ‘alim yang bermadzhab Syafi’i, mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al 'Aqidah as-Sunniyyah. Beliau memerintahkan para muadzdzin untuk mengumandangkan al 'Aqidah as-Sunniyyah di waktu tasbih (sebelum adzan Shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah dan Madinah, sebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh as-Suyuthi (W 911 H) dalam al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il dan lainnya. Sebagaimana banyak terdapat buku-buku yang telah dikarang dalam menjelaskan al 'Aqidah as-Sunniyyah dan senantiasa penulisan itu terus berlangsung.


Al Hafizh Muhammad Murtadla az-Zabidi (W. 1205 H) dalam Syarh Ihya 'Ulum ad-Din, Juz II, h. 6, mengatakan: "Jika dikatakan Ahlussunnah Wal Jama'ah maka yang dimaksud adalah al Asy'ariyyah dan al Maturidiyyah". Kemudian beliau mengatakan: "Al Imam al 'Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahwa aqidah al Asy'ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi'i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudlala' al Hanabilah)". Apa yang dikemukakan oleh al 'Izz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di masanya, seperti Abu 'Amr ibn al Hajib (pimpinan ulama Madzhab Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushayri pimpinan ulama Madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin as-Subki".


Al Hakim meriwayatkan dalam al Mustadrak dan al Hafizh Ibn 'Asakir dalam Tabyin Kadzib al Muftari bahwasanya ketika turun ayat: al-maidah 54, Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam menunjuk kepada sahabat Abu Musa al Asy'ari dan bersabda: "Mereka adalah kaum orang ini". Al Qurthubi mengatakan dalam Tafsirnya, Juz VI, h. 220: "Al Qusyairi berkata: pengikut Abu al Hasan al Asy'ari adalah termasuk kaumnya". (telah maklum bahwa al Imam Abu al Hasan al Asy'ari, Imam Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah keturunan sahabat Abu Musa al Asy'ari).



Diringkas dari buku: Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

Lembaga LITBANG

Syabab Ahlussunnah Wal Jama’ah

(SYAHAMAH)

Minggu, 02 Agustus 2009

Sekilas Wahabi


Wahabi, ya sebuah nama yang cukup ngetrend akhir-akhir ini. Tapi sayangnya di negeri kita masih sangat awam untuk mengenal apa itu Wahabi sesungguhnya, sehingga yang sangat menyedihkan adalah mayoritas kaum muda di Indonesia telah terjangkit virus Wahabi tanpa menyadarinya. Lain halnya dengan di negeri tetangga kita yaitu Malaysia. Dari pembicaraan kami dengan kawan-kawan kami di Qatar yang berasal dari Malaysia, nampak sekali bahwa mereka orang-orang Malaysia walaupun dari kalangan awam (kami pun termasuk) tapi mereka cukup dalam pemahaman agamanya. Sehingga mereka yang awam sekalipun faham akan bahaya Wahabi, tentang pentingnya bermazhab satu diantara empat mazhab ahlussunnah dan amalan-amalan fadhoil yang masih tetap lestari di negeri jiran Indonesia yaitu Malaysia. Bahkan cukup dalam juga pemahaman mereka (yang awam) akan mazhab Syafi’i yaitu salah satu mazhab fiqh dari empat mazhab ahlussunnah yang merupakan Mazhab terbesar umat Islam di dunia dan juga yang dianut oleh mayoritas umat Islam nusantara, Indonesia, Malaysia, & Brunei.

Negara Qatar mungkin termasuk negara yang juga terjangkit virus Wahabi, tapi Qatar merupakan negara yang sangat toleran terhadap perbedaan, hak asasi manusia dijunjung disini walaupun ada sedikit perbedaan antara pendatang dan tuan rumah, tapi semuanya masih dalam batas wajar. Bahkan bisa dibilang negara Qatar hanyalah mengejar materi. Tidak seperti Saudi Arabia yang dengan semangat sekali melarang ulama mazhab Maliki mengeluarkan fatwa dan membid’ahkan amalan-amalan kaum Sunni yang telah mengakar dari sejak masa salaf saleh (masa sampai abad 3H). Yang kemudian dengan penuh berapi-api menyebarkan fahamnya ke seluruh dunia.

Kembali ke topik yaitu Wahabi. Banyak pihak yang telah divonis sebagai Wahabi menolak dengan berbagai alasan akan kewahabiannya. Mereka pura-pura tidak tahu atau memang sebenarnya tidak tahu akan definisi dari wahabi terebut. Sehingga agar mereka itu sadar mereka itu wahabi “juga” maka akan sedikit kita kupas. Pertama, Wahabi adalah sebutan yang dinisbatkan kepada pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi yang lahir tahun 1701 M di Nejd, masuk wilayah Saudi Arabia. Sehingga SIAPAPUN yang menjadikan buku-buku karangan Syaikh tersebut, dan juga buku-buku karangan murid-murid dari Syaikh tersebut sebagai rujukan dalam beragama maka termasuk pengikut Wahabi. Dan perlu diketahui para Wahabi inipun telah berpecah-belah, masing-masing saling membid’ahkan bahkan saling mengkafirkan, na’udzubillah. Sehingga mereka ada yang mau maulidan, namun ada yang membid’ahkan maulidan, ada yang mau berpartai politik, ada yang membid’ahkan partai, ada yang setuju dengan penegakan Syariat Islam walaupun dengan cara membuat kegaduhan dan keonaran dalam negeri, ada juga yang tidak. Namun yang jadi titik temu adalah menjadikan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab beserta murid-muridnya sebagai RUJUKAN. That’s clear.

Kedua, para Wahabi (yang telah didefinisikan diatas) jarang sekali menerima dirinya disebut sebagai Wahabi. Argumen yang sering mereka lontarkan berulang-ulang adalah bahwa penyebutan Wahabi sebagai pengikut Syaikh bin Abdul Wahhab adalah tidak tepat dalam bahasa arab karena nama Syaikh adalah Muhammad sedangkan Abdul Wahhab adalah ayah sang Syaikh. Jadi sepatutnya pengikutnya disebut dengan Muhammadi bukan Wahhabi, kata mereka. Sehingga mereka menemukan celah untuk menolak disebut sebagai Wahabi. Namun sebenarnya mereka telah menghancurkan dalih mereka dengan lisan-lisan mereka sendiri. Mereka masih menyebut pengikut Imam Ahmad bin Hanbal dengan sebutan Hanbali atau Hanabilah, pengikut Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi’i dengan sebutan Syafi’iyyah atau Syafi’i, pengikut Imam Abul hasan Al-Asy’ari sebagai Asy’ariyah. Bukankah nama-nama tersebut bukan nama dari para imam tersebut? Melainkan nama dari kakek dari para imam tersebut. Mengapa mereka para Wahabi tidak menyebut pengikut Imam Ahmad bin Hanbal sebagai Ahmadi? Mengapa tidak menyebut pengikut Imam Muhammad bin Idris sebagai Muhammadi?. Mereka hanya mencari-cari celah dari lemahnya pemahaman umat Islam, sehingga kita lihat pengikutnya di negeri kita adalah orang-orang yang masih sangat awam namun penuh semangat dalam mempelajari agama. Mereka nampak sangat ahli berbicara dalam masalah khilafiyah, bid’ah, syirik, kafir dan lainnya. Namun ketika ditanya hal-hal yang sedikit khilafiyah para ulama didalamnya seperti masalah zakat, hukum waris, hukum thalaq, dan lainnya, mereka hampir buta dan tak punya pemahaman sama sekali tentang hal-hal tersebut.

Dari dua alasan diatas kami rasa cukup membuat para Wahabi untuk mengakui bahwa dirinya adalah Wahabi, dan tak perlu tersinggung jika disebut Wahabi. Namun yang perlu diingat dari tulisan kami adalah kami tidak hendak seperti Wahabi yang gemar memaksa, hanya sekedar mengingatkan agar mereka tidak perlu kebakaran jenggot jika disebut Wahabi kemudian membuat klarifikasi ataupun pura-pura sepaham dengan sunni. Wallahu A’lam.